Update Info Penting Via Facebook!

Seorang Ibu dan Anak Berkebutuhan Khusus


Seorang Ibu dan Anak Berkebutuhan Khusus – Siang ini cuaca sangat terik. Keganasan musim panas sedikit demi sedikit mulai tampak. Tak terkecuali di kota tempatku tinggal, kota Tangier, Maroko Mizyan. Meski demikian, hakikat musim panas dengan suhunya yang ekstrim tak bisa betul – betul hidup di kota ini. Maklum saja, kota Tangier terletak di ujung paling utara negeri. Letak geografisnya yang berada di tepi Laut Mediterania dan banyaknya pepohonan hijau nan rindang membuat suasana sejuk, laiknya di Indonesia.
 
ilustrasi seorang ibu bersama anak berkebutuhan khusus, via yenisovia.com
Medina Qadima – sebutan kota lama, pada hakikatnya setiap kota di Maroko mempunyai sebutan kota lama dan kota baru, kali ini saya mencoba menjelajahinya. Meskipun sudah begitu sering, namun tak ada salahnya menjelajah lagi di tengah jeda aktifitas kuliah yang begitu lama. Pun jika hanya sekedar berdiam diri ataupun do something di rumah tentu jiwa ini akan jenuh dengan sendirinya.

Waktu dzuhur masih sekitar satu jam lagi. Suasana kota masih belum begitu ramai. Di Maroko, apalagi saat musim panas begini, yang mana waktu malam begitu singkat, mereka lebih banyak beraktifitas di sore hingga malam hari. Sedangkan waktu pagi hingga siang biasanya mereka baru beristirahat. Maka jangan heran jika di pagi hari hingga minimal jam 10 pagi, kita jarang menjumpai toko – toko maupaun restoran yang sudah buka. Kecuali instansi pemerintahan, pendidikan maupun perkantoran, maka aktifitas berjalan menurut waktu normal.

Tampak orang – orang berjalan di sekitaran kota lama. Satu dua pertokoan mulai buka. Paling banyak adalah toko buah – buahan, sayur mayur serta aneka daging. Taksi sesekali melintas. Lebih banyak mobil pribadi yang terparkir rapi di tepi jalan.

Saya berjalan masih menyusuri kota lama yang tak begitu luas ini. Di sebelah atas terdapat kawasan rimbunan pohon dan taman hijau. Lokasinya agak ke atas. Dari sini pemandangan setengah kota lama terlihat eksotis. Tak terkecuali Laut Mediterania serta pelabuhan penghubung Afrika – Eropa. Suasana pantai meskipun agak jauh namun masih terlihat jelas, di sana banyak orang yang bermain air, berjemur maupun sekedar menghabiskan waktu luang.

Aku duduk di dekat taman hijau nan rindang. Sedikit menahan lelah dan terik akibat 90% perjalanan yang segera ku sudahi. Sambil melihat orang melintas, kendaraan berjalan, anjing tertidur pulas, serta tiupan angin yang menetralkan suasana.

Oh, di samping saya ada seorang ibu berjalan pelan kemudian terduduk. Usianya ku taksir lebih dari enam puluh tahun. Taksiranku ini bertendensi atas cara berdirinya yang tak setegak wanita usia empat puluhan. Ia tak sendiri. Ia menemani seorang putranya yang ku taksir usianya di atas 20 tahun. Ku amati, si anak bertubuh tinggi namun kurus. Sangat kurus. Dan, ohhh. Ada yang berbeda darinya. Tampaknya dia seorang anak berkebutuhan khusus.

Sang ibu kuperhatikan menyuapkan sebungkus roti bolu. Si anak menggeleng dengan pandangan yang tidak beraturan. Si ibu dengan lembut memposisikan roti di depan mulut. Dengan terpaksa, sang anak pun membuka mulutnya. Hanya sekali gigit, ia kemudian menggeleng lagi. Sapu tangan diusapkan untuk membersihkan mulutnya.

Sebuah yogurt kemasan gelas kemudian dibukanya. Kali ini si anak membuka mulutnya tanpa menolak. Ia minum perlahan yogurt itu dengan gelas yang dipegang oleh sang ibu. Sedikit tertumpah, diusaplah dengan sapu tangan. Sang ibu agak rileks, menoleh ke samping, melihat apa yang melintas maupun kesejukan yang menetap. Sesekali posisi topi si anak dibetulkan. Kali ini yogurt itu dihabiskan sempurna.

Usai itu, sang ibu berdiri kemudian si anak ditariknya perlahan. Dengan posisi berdiri yang sudah tak tegap lagi, sang ibu menggandeng anaknya berjalan pergi. Pelan. Sangat menjaga. Kemudian pergi. Kemudian saya merenung.

Duhai... Betapa besar kasih seorang ibu. Kata – kata ibi bukan dibuat – buat, namun nyata adanya.  Seorang ibu yang usianya bisa dibilang tinggal menikmati hasil mendidik anaknya, yang seharusnya tinggal menikmati hasil kerja anaknya, yang seharusnya mendapat penjagaan dari anaknya, namun ia justru rela tetap memberikan itu semua kepada anaknya. Tetap memberlakukan anaknya sebagaimana saat ia balita.

Anaknya kan memang berkebutuhan khusus, jadi wajar sang ibu berlaku demikian. Bukan ini poin yang saya maksud. Justru dari sini saya bisa simpulkan betapa tulus budi baik seorang ibu. Ia bahkan tak mengharap balas budi apapun. Ia hanya ingin menyayangi, menyayangi dan menyayangi anaknya. Tak ingin anaknya kelaparan, kehausan, kepanasan. Ia ingin benar – benar menjaga anaknya, yang meskipun secara usia sudah dewasa. Ia tetap mencurahkan kebaikannya meskipun ia yakin, anaknya tak bisa memberikan balasan kelak. Dan kita tetap patut bersyukur atas segala kehidupan normal dalam diri kita. Karena potensi untuk berbakti terbuka.

Setiap anak adalah anugrah sekaligus titipan. Sebetapapun kondisi sang anak, harus diterima dengan baik sebagai titipan Tuhan. Tentu saja seberapa berat bentuk titipan itu untuk diterima, sebesar itulah pahala mengalir deras.

Sebagai anak, sudah selayaknya kita tidak menyia – nyiakan kasih sayang orang tua, terutama ibu. Sudah selayaknya hati kita bergerak untuk membahagiakan mereka dengan cara yang kita bisa. Dan kebahagiaan hakiki orang tua dari anaknya adalah, melihat anaknya shaleh serta senantiasa mendoakannya.

Untuk kisah inspiratif maupun informasi penting dan menarik lainnya, silakan jelajahi peta situs di sini

0 Response to "Seorang Ibu dan Anak Berkebutuhan Khusus"

Post a Comment