Update Info Penting Via Facebook!

7 Hal Tidak Menyenangkan Saat Kuliah di Maroko


MarokoMizyan_Di dunia ini, sisi hitam dan putih pasti selalu berdampingan. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia di Maroko. Di balik Maroko merupakan negara elok yang kaya akan keilmuaannya untuk digali, ternyata Maroko juga menyimpan banyak hal yang membuat para pencari ilmu merasa tidak nyaman. Apa sajakah itu? Berikut hal-hal tidak menyenangkan yang paling dirasakan oleh mahasiswa Indonesia di Maroko;

1.    Musim
Bagi orang Indonesia yang biasa dengan musim tropis, tentu akan sangat terganggu dengan hadirnya empat musim saat sedang kuliah di Maroko. Gangguan terbesar bisa jadi terjadi pada musim dingin, di mana dalam kondisi cuaca yang dingin tubuh akan merasa berat untuk bergerak dan beraktifitas, seperti berangkat kuliah, belanja di pasar, menghadiri majlis ilmu dan lain-lain. Pada musim dingin juga kebutuhan flat atau rumah meningkat, seperti untuk kebutuhan penghangat ruangan dan pemanas air. Saat musim panas tiba, orang Indonesia yang biasa dengan suhu teratas 30-an derajat, harus bersiap untuk menyediakan kipas terdingin dan mandi empat kali sehari. Pasalnya, suhu musim panas di beberapa kota Maroko di atas 40 derajat, bahkan ada yang 50 derajat.

      2.   Makanan
Jika Indonesia merupakan surga makanan enak dan beragam, hampir setiap daerah punya makanan khas andalan yang beragam dan penuh cita rasa, tidak dengan Maroko. Di Maroko kita hanya punya pilihan untuk mengonsumsi makanan yang itu-itu saja. Kuliner Maroko didominasi oleh aneka roti yang biasa dikonsumsi saat sarapan pagi, biasanya dikombinasikan dengan minyak zaitun, keju, selai maupun madu. Selain itu, kacang-kacangan juga menjadi menu sehari-hari. Olahan daging biasa disajikan saat acara tertentu, namun cara masak dengan bumbu khas Arab yang membuat cita rasanya yang berbeda dengan apa yang biasa kita makan. Perlu penyesuaian lidah yang tidak sebentar dalam urusan ini.

     3.  Biaya Hidup Mahal
Letak geografisnya yang berbatasan dengan benua Eropa membuat biaya hidup di Maroko cenderung mahal. Barang kebutuhan seperti beras, bahan makanan, buku dan fotokopi, maupun kehidupan hidup lainnya memang lebih mahal dibanding Indonesia. Tak hanya itu, harga bahan bakar dan biaya transportasi juga lebih tinggi. Bagi mahasiswa dengan dompet mepet, tentu harus pintar-pintar memanage keuangan agar tidak gigit jari sebelum awal bulan tiba.

      4.  Minim Fasilitas Umum
Harus diakui, Maroko memang serius dalam usaha penataan lingkungan dan pengadaan ruang terbuka hijau. Namun dalam urusan fasilitas dan toilet umum, Maroko nomor sekian. Jika ingin bepergian, pastikan sudah beres dengan urusan buang air karena jarang sekali toilet umum yang dapat dipakai. Bahkan masjid pun ditutup dan dikunci rapat di luar jam-jam sholat. Tak heran jika tempat-tempat umum layaknya pasar, terminal, taman  maupun pinggir jalan menyuguhkan aroma yang tak sedap.

     5. Watak Orang Maroko Keras
Bangsa Arab memang terkenal dengan wataknya yang keras, suka berdebat dan ingin menang sendiri. Begitu pula dengan Orang Maroko. Saat berbincang, siap saja kita untuk menjadi pendengar fulltime karena orang Maroko sangat gemar berbicara. Saat ingin mengemukakan pendapat biasanya langsung dipotong dan seakan-akan kita tak boleh berbicara serta harus berada di bawah kendalinya. Saat di pasar maupun terminal, adu mulut dan baku hantam antar orang Maroko juga biasa kita temui.
Ilustrasi kemarahan Orang Arab, via Dreamstime.com

      6.  Rumitnya Administrasi
Barangkali poin nomor 5 menjadi salh satu alasan rumitnya administrasi yang ada. kita harus bersiap untuk menghadapi rumitnya pengurusan administrasi saat berada di kampus maupun sedang membuat kartu izin tinggal. Urusan administrasi di Maroko kebanyakan tidak terorganisir dengan baik dan penuh ketidakpastian. Bahkan di sebagian kampus, ijazah baru keluar setelah satu tahun kelulusan. Kerumitan ini juga diperkuat dengan kebiasaan orang Maroko yang suka ingkar janji. Janji menunggu lima menit realitanya dua jam, tiga hari nyatanya dua minggu.

     7.  Tanpa Program Bahasa
Sebaiknya jangan mencoba-coba untuk kuliah di Maroko kalau kemampuan bahasa Arab masih rendah. Karena durasi kuliah di Maroko yang hanya tiga tahun dan tidak adanya program penguatan bahasa dikhawatirkan bisa membuat kita hanya sekedar lulus tanpa diiringi kualitas. Bahasa adalah kunci pengetahuan, dan orientasi kuliah di Maroko adalah ilmu-ilmu keislaman yang semuanya menggunakan bahasa Arab. Kuliah adalah fase di mana seseorang seharusnya hanya butuh meningkatkan kemampuan dan potensi diri, bukan menemukan dan memulai pondasinya. Jika kualitas bahasa Arab kita masih rendah tentu akan sulit untuk mengimprove ilmu pengetahuan, meskipun urusan lulus kuliah dapat disiasati dengan menghafal materi kuliah.


Demikian 7 hal tidak menyenangkan saat kuliah di Maroko. Bisa saja suatu hal tidak menyenangkan menurut sebagian orang tapi tampak menarik bagi sebagian yang lain. Dan setiap orang punya cara masing-masing untuk memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap hal baru yang Ia temui. Orang hebat adalah Ia yang suka dengan tantangan untuk kemudian ditaklukkan. Jika ada hal yang ingin diutarakan jangan lupa tulis di kolom komentar. Merci beaucoup.

Baca juga informasi penting dan menarik lainnya melalui jelajah peta situs di sini

0 Response to "7 Hal Tidak Menyenangkan Saat Kuliah di Maroko"

Post a Comment